 |
Pulau Karimun, Kepulauan Riau |
;/table>
Apakah pendirian Batalyon dan Pangkalan Marinir di Tanjung Sebatak, Karimun, terkait dengan pembangunan Pasmar III yang akan berkedudukan di Belawan, Sumatera Utara ?. Belum tahu.
Embrio pembentukan Pasmar III dimulai dengan pembentukan Yonif 9 Brigif 3 di Paibiung, Lampung, bukan di Karimun.
Tapi yang jelas, tugas Pasmar III mengamankan teritorial di sekitar wilayah Sumatera, termasuk pengamanan wilayah perbatasan perairan Indonesia dengan Malaysia dan Singapura. Otomatis Batalyon Marinir di Tanjung Sebatak Karimun, di bawah Komando Pasmar III.
Pasmar III juga akan membawahi Pangkalan Marinir yang akan dibangun di Pulau Nipah, untuk mengamankan perbatasan RI yang berdekatan dengan Singapura.
“Pasukan marinir dan TNI AL berjaga-jaga di perbatasan. Pasukan dilengkapi senjata. “Senjata biasa,” ujar Panglima Armada RI Kawasan Barat TNI AL, Laksamana Muda Didit Herdiawan.
 |
Marinir di Pulau Nipah |
Pembangunan Pangkalan Marinir di Pulau Nipah, terkait dengan rencana Pemerintah Pusat untik membangun beberapa usaha, diantaranya: Tempat labuh jangkar kapal-kapal internasional yang melalui Selat Malaka, serta usaha perikanan.
“Pulau Nipah akan dikembangkan sebagai kawasan sentra pertumbuhan ekonomi berbasis pertahanan”, ujar Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan Sudirman Saad.
Pulau Nipah seluas 44 hektar akan dialokasikan 15 hektar untuk pertahanan dan sisainya untuk: Bangun, Infrastruktur, Labuh Kapal, Pengisian Bahan Bakar dan Penjualan Air.
TNI AL tampaknya memproyeksikan penempatan satu atau dua Kompi Marinir di Pulau Nipah, untuk dijadikan semacam Outpost.
 |
Pulau Nipah |
Bagaiamana dengan Pangkalan Marinir di Karimun ?.
Pulau Karimun sangat strategis dan bisa dikatakan “Hot Spot”, karena berbatasan langsung dengan Singapura, Malaysia dan jalur Perdagangan Internasional Selat Malaka.
Pangkalan ini seharusnya bisa dijadikan Foward Base, tempat men-deploy logistik dan prajurit, jika sewaktu-waktu terjadi perang. Tanjung Sebatak juga bisa menjadi Resupply Base bagi kapal-kapal perang Indonesia yang berpatroli di perbatasan. ,/div>
Untuk itu pangkalan ini harus terlindungi dengan kuat. Mereka harus memiliki pertahanan udara, anti-serangan kapal, jammer, serta bunker untuk menampung persediaan amunisi dan bahan bakar.
 |
Presiden SBY Tinjau Latihan Marinir |
Jika tidak dilengkapi sistem pertahanan yang kuat, Markas Marinir ini, bisa menjadi menjadi “sitting duck” atau sasaran empuk bagi musuh.
Sistem keamanan untuk markas terdepan sangat krusial dan memiliki nilai strategis yang tinggi.
Pangkalan Marinir di Tanjung Sebatak, karimun akan melindungi wilayah terluar Indonesia, sekaligus memberikan rasa aman bagi jalur perdagangan, maupun investor yang menanam modal di Kepulauan Riau.
Idealnya pasukan di Tanjung Sebatak berkekuatan satu Divisi (dari berbagai kesatuan), atau minimal “task force” yang mampu mandiri, jika terjadi perang.
Sumber :
JKGR
Senin, Juli 02, 2012
IDB

MALANG-(IDB) : Sebuah gambar kepala Panther hitam menempel garang di badan pesawat tempur Hawk 200.Mulutnya mengaum garang,berlatar belakang sebuah gambar kilat yang menyala tajam.
Warna abu-abu langit,juga semakin membuat kepala Panther ini hidup,dan siap menerjang. Angka 12 tersebut merupakan penanda burung besi mematikan buatan Inggris tersebut berangkat dari Skuadron Udara 12, Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Pekanbaru.Hampir di ujung moncong pesawat juga tertulis angka 09. Nomor ini merupakan tanda nomor pesawat di skuadron tersebut.
Burung besi ini nampak mengkilat,dengan motif loreng perpaduan abu-abu muda dan abu-abu tua.Tampangnya garang.Siap menerjang angkasa. Menembus langit biru nusantara.Menggeliat cerdik di antara awan-awan putih, menghunus pusaka menerjang setiap lawan yang mengancam. Warna loreng abu-abu ini baru saja selesai digarap oleh para putra terbaik TNI AU yang tergabung di dalam Satuan Pemeliharaan (Sathar) 32,Depo Pemeliharaan 30, Lanud TNI AU Abdulrachman Saleh,Malang.
Bukan ahli dari Inggris, atau Amerika Serikat,yang membuat burung besi menjadi garang,segarang Panther. Putra-putra terbaik bangsa,yang bernaung di Sathar 32,mampu mandiri membuat Panther Skuadron Udara 12 mengaum di langit nusantara. Hanya berjarak beberapa langkah di depan Panther Skuadron Udara 12,tampak logo kepala Jonga atau Kijang, mulai sumringah.Jonga yang terpampang di badang Hawk 200 milik Skuadron Udara 1 Pontianak tersebut,juga akan menjalani masa-masa pergantian warna di Sathar 32.
Saat ini,Jonga lambang kelincahan, kecerdikan,dan kecepatan ini,masih menggunakan warna lama.Loreng hijau tua,dipadu hijau muda,dan cokelat,masih menempel lekat.Sebentar lagi,tangantangan terampil putra-putra terbaik yang tergabung di Sathar 32,akan memanjakannya dengan warna baru,loreng abu-abu.“Warna loreng abuabu, menjadi warna kamuflase resmi para pesawat tempur TNI AU,”ujar Pembantu Letnan Dua (Pelda) Lagiono. Prajurit TNI AU,yang sudah mengabdikan diri sejak tahun 1986 tersebut,menjadi salah satu bintara senior di Sathar 32.Perannya,khusus dalam hal menangani pengecatan pesawat TNI AU.Banyak pesawat tempur sudah ditanganinya, termasuk pesawat tempur F-16.
Dari tangan telaten para prajurit tersebut,saat ini sudah ada delapan unit pesawat tempur jenis Hawk yang sudah berganti kamuflase loreng abu-abu.Lagiono menyebutkan, pesawat jenis Hawk yang sudah selesai dicat dan diperbaiki, ada di Skuadron Udara 1 sebanyak lima unit,dan di Skuadron Udara 12 sebanyak tiga unit.“Pengerjaannya dilakukan di Malang.Ada juga yang kami kerjakan di skuadronnya masing-masing,” ujarnya begitu ramah. Butuh sedikitnya 7-8 galon cat,atau sekitar 28-32 liter cat untuk mengecat satu unit pesawat. Pengerjaannya dilakukan selama 1-2 minggu.
Prosesnya dimulai dari pembersihan cat lama,perbaikan,kemudian pengecatan dengan cat baru. Kualitas hasil pengecatan, tidak bisa diremehkan.Karya anak negeri ini,sudah terbukti memiliki kualitas tinggi. Salah satu buktinya,pengecatan yang dilakukan terhadap pesawat tempur taktis F- 16,sudah berusia 10 tahun,namun belum menunjukkan kerusakan.“ Kualitas kami utamakan. Selain itu,kerja seni juga menjadi bagian dari pencetan pesawat ini.Hingga membuat pesawat tampil garang, menawan,dan memiliki kualitas bagus,”ujar Lagiono.
Bukan sekadar kamuflase warna di badannya saja yang diganti dan dibersihkan.Kemampuan avionik,dan listrik instrumen pesawat,juga turut dibenahi dan dijaga di Sathar 32.Alhasil,pesawat temput taktis ini tidak hanya garang di luar,namun kegarangan mesinnya layak diacungi jempol. Kepala unit avionik dan listrik instrumen (Aviolinst) Sathar 32,Letnan Satu (Lettu) Elektronik (Lek),Andhi Setyo menyatakan,setiap pesawat tempur yang masuk perawatan di Sathar 32,akan dicek kondisi keseluruhannya.
“Satu incipun tidak boleh luput dari pengecekan, karena kondisi pesawat yang prima akan sangat mendukung kegiatan operasi yang dijalankan,”tegasnya. Secara keseluruhan,ada tiga tahap yang harus dilaksanakan dalam pengecatan dan perbaikan pesawat tempur ini. Tahapan itu,menurut kontrol kualitas Sathar 32,Pembantu Letnan Satu (Peltu),Haryanto, antara lain tahap predock; in dock; dan post dock. Tahap pre dockmeliputi penerimaan pesawat dari skuadron yang mengoperasionalkan. Kemudian dilanjutkan dengan tes seluruh sistem pesawat, termasuk uji fungsi dan performance engine pesawat.
Tahap in dock,berupa pembongkaran, pemeriksaan,perbaikan, dan pengetesan.“Dalam tahap terakhir,atau post dock,akan dilakukan penimbangan, pengecekan terakhir, dan tes terbang,”terangnya. Pengalaman dan prestasi pengecatan pesawat,serta perbaikannya ini,sudah berjalan sangat lama.Menurut Komandan Depo Pemeliharaan 30 Lanud TNI AU Abdulrachman Saleh Malang,Kolonel Dento Priyono,pada tahun 2012 ini,jadwal pengecatan sangat padat. Setelah menyelesaikan pengecatan sebanyak enam pesawat F 16,dilanjutkan pengecatan delapan unit Hawk 100,dan Hawk 200.
“Selain itu,masih menyelesaikan pengecatan pesawat angkut Cassa A 2103,dan Cassa A 2017,”ujarnya. Setiap pengecatan,dan perbaikan pesawat ini,dilaksanakan oleh tim kecil yang beranggotakan 8-10 orang personel.Mereka terdiri dari satu orang perwira,anggota, dan kontrol kualitas.Depo Pemeliharan sendiri,membawahi tiga satuan yakni Sathar 31; Sathar 32; dan Sathar 33. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi bangsa ini.Setiap personel Sathar,memiliki ketelitian, kemampuan,dan jiwa seni untuk memperbaiki pesawat tempur.
Mereka membuat setiap burung besi TNI AU menjadi garang,layak terbang,dan lincah bermanuver di langit biru,memecah angkasa, menjaga setiap jengkal kedaulatan udara nusantara.
Senin, Juli 02, 2012
IDB
ANALISIS-(IDB) : Perairan luas di kawasan timur Indonesia sesungguhnya masih sepi dari pengawalan angkatan laut. Laut Arafuru yang berbatasan langsung dengan Australia membentang mulai dari Merauke sampai Tanimbar dan Timor Leste dari sisi strategi pertahanan dinilai sangat strategis. Perairan ini merupakan pagar utama mengamankan Papua dari gangguan infiltrasi atau serangan angkatan laut negara lain jika hendak menginvasi Papua. Laut Arafuru juga bernilai historis patriotik ketika konflik Trikora pecah awal tahun 60an. Yos Sudarso dengan sejumlah awak dan kapal perang KRI Macan Tutul bersemayam di perairan itu ketika hendak melakukan infiltrasi ke Papua setelah terjadi baku tembak dengan armada angkatan laut Belanda.
Pergelaran kekuatan angkatan laut sudah saatnya tidak lagi harus berpusat di Surabaya. Sehingga manakala ada kegiatan operasi laut berupa Guskamla (Gugus keamanan laut) dan Guspurla (Gugus tempur laut) dapat mengambil sejumlah KRI yang sudah didomisilikan di Kupang atau Merauke dengan model shift misalnya untuk masa 3 bulan operasi. Cara-cara ini tentu lebih efektif dari sisi kecepatan reaksi dan meminimalkan biaya perjalanan panjang dari Surabaya atau Makassar. Tapi yang terpenting dari semua itu tentu saja nilai kehadiran sejumlah KRI yang selalu ada di perairan Arafuru atau perairan Banda untuk mewibawakan teritori.
 |
| KRI Fatahillah, korvet pemukul strategis TNI AL |
Permasalahannya tentu ada di seputar ketersediaan jumlah KRI untuk laut dalam. Minimal yang diperlukan hadir di perairan timur Indonesia seperti Arafuru adalah jenis korvet atau KCR-60. Kapal perang kita dari jenis korvet diperkirakan berjumlah 24 unit dengan dominasi dari Parchim Class. Pangkalan angkatan laut Kupang dan Merauke yang sudah berkualifikasi Lantamal sudah selayaknya diisi masing-masing dengan minimal 3 KRI berkualifikasi korvet termasuk adik kelasnya kapal patroli cepat minimal 3 unit untuk menunjukkan kehadiran setiap saat di pagar halaman belakang rumah kita.
Australia selalu aktif menghadirkan sejumlah kapal perangnya di laut Timor dan sekitarnya termasuk menjadikan Darwin sebagai pangkalan utama angkatan lautnya. Ini menunjukkan sebuah identitas pentingnya kehadiran kapal perang sebagai bentuk kewibawaan menjaga border perairan. Identitas kewibawaan ini sudah selayaknya dilakukan oleh TNI AL dengan mengirim sejumlah KRI untuk dipangkalkan di Kupang dan Merauke selama beberapa waktu misalnya 3 bulan berganti shift. Sehingga minimal ada 6 KRI berkualifikasi korvet yang hadir setiap saat mengawal Arafuru dan Banda.
Yang menggembirakan tentu saja sudah tersedianya satuan radar modern di Kupang, Saumlaki, Timika dan Merauke sehingga tidak ada lagi wilayah udara yang blank spot menghadapi infiltrasi dari selatan yang memang suka usil itu. Seluruh satuan radar itu sudah terintegrasi sehingga dapat dipantau di pusat komando angkatan udara di Jakarta. Yang belum tentu saja jet tempur untuk melakukan perburuan dan penyergapan terhadap penerbangan tanpa identitas yang terdeteksi. Sudah ada skuadron Sukhoi di Makassar namun rasanya kok masih terlalu jauh lokasinya dan lagi untuk intersep mestinya tidak efisien jika menjadi tugas Sukhoi. Cukup F16 atau F5E yang sudah seharusnya dipangkalkan di Kupang.
Biak sebenarnya paling siap untuk menerima kehadiran skuadron jet tempur. Sudah tersedia 1 batalyon Paskhas disana berikut satuan radarnya. Kita sangat berharap untuk program jangka pendek tiga tahun ke depan sudah tersedia 1 skuadron jet tempur F5E yang mengisi pangkalan udara Biak dimana 1 flight diantaranya digeser ke Kupang untuk melakukan patroli udara. Jika hibah F5E dari Korsel direalisasikan maka kita punya 2 skuadron F5E, maka sudah selayaknya 1 skuadron dimutasikan ke Biak. Jangan setengah hati memaksimalkan Biak yang sudah menanti sekian lama menunggu kehadiran jet tempur TNI AU menetap disana.
 |
| Formasi KRI Parchim Class dalam sebuah latihan tempur laut |
Ketersediaan skuadron jet tempur ringan untuk patroli udara di kawasan timur Indonesia khususnya antara Biak, Kupang, Timika dan Merauke serta kehadiran yang terus menerus kapal perang RI di perairan Arafuru merupakan “fardhu kifayah” bagi kita. Karena ini merupakan bagian dari rukun kesempurnaan dalam konsep berpertahanan di bingkai wilayah NKRI. Kalau kita mengabaikan rukun fardu kifayah berpertahanan ini maka kita sangat berdosa pada sebuah negara yang bernama Indonesia. Kita sudah punya mata telinga yang lengkap berupa satuan radar yang saling berinteraksi di kawasan itu. Maka rukun berpertahanan itu akan semakin lengkap dengan kehadiran 1 skuadron jet tempur ringan untuk menjaga kewibawaan teritori udara diatas Arafuru dan Laut Timor. Demikian juga dibentuknya Lantamal Kupang dan Merauke akan menjadi sebuah kesia-siaan jika tidak segera diisi dengan sejumlah KRI minimal KCR 60 atau korvet.
Laut Arafuru, laut Banda dan laut Timor adalah wilayah kita apakah itu menyangkut wilayah teritori pantai dan zona ekonomi eksklusif. Kehadiran berupa patroli laut dan udara yang terus menerus di wilayah ini merupakan nilai wajah kita sesungguhnya. Jika kita abai maka itulah raut wajah kita sesungguhnya yang tidak mampu menampilkan nilai kewibawaan yang sejatinya memiliki wilayah yang berwibawa. Betapa tidak, posisi strategis negara ini yang menunjukkan kewibawaan teritorinya akan menjadi sebuah ironi manakala kita tidak mampu menjaganya, bahkan mengabaikannya.
Mestinya ke depan ini tidak ada lagi alasan kurangnya armada kapal perang atau kurangnya jet tempur sebagai alasan tak mampu menjaga wilayah. Mulai tahun ini dan seterusnya akan banyak berdatangan alutsista baru dan bergigi antara lain berupa kapal perang dan jet tempur. Kalau tahun ini mungkin kita masih bisa menghapus dosa fardu kifayah itu namun ketika matahari tahun 2015 sudah memancarkan sinar hangatnya kita sudah harus mampu menjaga kewibawaan teritori darat, laut dan udara dengan kebanggaan yang pasti. Jika itu pun belum bisa dilakukan maka satu-satunya jalan adalah menengadahkan tangan dihdapan Sang Pencipta: Ya Allah jagalah dan selamatkanlah negeri kami yang kaya raya ini.