C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Senin, Maret 26, 2012
Akhirnya Kemhan Terpaksa Beberkan Rincian Harga Sukhoi Dan Pendukungnya, Haruskah...???
Wamenhan: Rusia Tak Izinkan Beli Sukhoi dengan "State Credit"
"Padahal, penggunaan state credit lebih menguntungkan Indonesia," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat kerja Komisi I dengan Kemhan dan TNI di DPR RI, Senin (26/3). State credit yang tersedia untuk Indonesia bernilai US$1 miliar dan baru digunakan US$300 juta.
Menurut Sjafrie, pemerintah Rusia meminta state credit digunakan untuk pembelian kapal selam. Namun, pengadaan kapal selam oleh Indonesia tidak dilakukan melalui Rusia melainkan dari Korea Selatan. “Mereka memaksa sisa kredit dihabiskan untuk membeli kapal selam,” ujarnya.
Karenanya, pemerintah Indonesia memutuskan membeli Sukhoi menggunakan kredit ekspor. Namun begitu, untuk menyiasati beban pembayaran, Kemhan memasukkan pembelian suku cadang Sukhoi menggunakan state credit.
Penggunaan state credit sebenarnya lebih menguntungkan bagi pemerintah. Misalnya, tenor (jangka waktu pinjaman) lebih panjang yaitu sekitar 15 tahun, dengan bunga rendah. Dengan kredit ekspor hanya 2-5 tahun dengan bunga yang lebih besar.
DP 6 Sukhoi Belum Dibayar Menunggu Persetujuan DPR
“Uang muka pembelian enam Sukhoi belum dibayar, karena masih menunggu persetujuan DPR,” kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat kerja Komisi I dengan Kemhan dan TNI di DPR RI, Senin (26/3).
Pernyataan Sjafrie menanggapi Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq mempersoalkan pembelian pesawat tempur Rusia itu karena tidak menggunakan state credit.
Menurutnya, daftar pembelian alutsista yang dapat dibeli dengan state credit bisa diubah sesuai kesepakatan kedua pihak. “Saya kira itu akan dijajaki Kementerian Keuangan dan Pemerintah Rusia,” kata Mahfudz.
Selain dari dalam, kendala pengadaan Sukhoi juga dari Rusia. Kata Sjafrie, Rusia menolak pembelian Sukhoi dengan state credit.
"Tidak disetujui federal service on military technical operation di Rusia. Maka pengadaan Sukhoi tetap menggunakan kredit komersial biasa. Tetapi suku cadang, persenjataan dimasukkan dalam list state credit,” katanya.
Dalam pertemuan itu, DPR tetap meminta penjelasan transaksi Sukhoi. “Ada perbedaan dengan negara tetangga Taiwan dan bedanya cukup besar,” kata Anggota Komisi I DPR RI Lily Wahid.
Pangdam VI Mulawarman : Tank Leopard Dinilai Mampu Amankan Perbatasan
"Kami mengharapkan agar bertepatan dengan HUT TNI pada 5 Oktober 2012, sudah datang 22 tank Leopard 2A6 untuk menjaga wilayah perbatasan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Itu satu kompi kavaleri, dan akan kami tempatkan di Bulungan," kata Pangdam VI Mulawarman Mayor Jenderal TNI Subekti di Balikpapan, Senin (26/3).
Hal itu diungkapkan Pangdam dalam kunjungan silaturahmi untuk memperkenalkan diri kepada Ketua dan anggota DPRD Balikpapan.
Setahun setelah itu, yaitu pada 5 Oktober 2013, kekuatan pasukan kavaleri di Bulungan sudah akan satu batalyon dengan 44 buah tank Leopard. Satu batalyon lagi akan ditempatkan di Kalimantan Barat di bawah Kodam XII Tanjungpura.
"Jadi dengan 100 tank yang rencananya akan kita beli dari Belanda atau Jerman, 88 buah akan mengamankan perbatasan, dan 12 sisanya ditempatkan di Pusdiklat Kavaleri di Batujajar, Jawa Barat," papar Panglima Subekti.
Tank-tank tersebut total bernilai 280 juta dolar AS. Satu tank Leopard diawaki empat personel, yaitu satu pengemudi, satu penembak, satu pengisi senjata, dan satu komandan.
"Dengan tiga personel juga sudah bisa jalan dengan salah satu dari mereka menjadi komandan," sambung Panglima yang sebelumnya adalah Asisten Perencanaan (Asrena)Kasad di Markas Besar TNI tersebut.
Tank Leopold 2A6 adalah tank tempur utama (main battle tank, MBT) Jerman. Tank ini berbobot 62,3 ton dengan dimensi panjang 7,7 meter, lebar 3,7 meter, dan tinggi hingga kubahnya 3 meter.
Kecepatan maksimumnya 72 km per jam. Dengan menggunakan BBM yang dibawanya, Leopard 2A6 sangguh menempuh jelajah 550 km sebelum mengisi BBM lagi. Kemampuan itu berasal dari mesin diesel MTU MB 873 Ka-501 12 silender berdaya 1,500 HP tenaga kuda pada putaran mesin 2.600 RPM.
Persenjataan utama tank berat ini adalah sebuah meriam Rheinmetall smoothbore L55 120 mm yang ditangan awak yang terlatih sanggup melepaskan 42 peluru per menit.
Tank itu juga dilengkapi juga dengan dua senapan mesin MG3 kaliber 7,62. Tank juga dilengkapi dengan perlengkapan untuk melihat dan membidik dalam kegelapan (night vision) yang lebih maju. Tank ini memiliki kemampuan untuk bertempur menghadapi sasaran bergerak walaupun melewati medan yang sangat sulit dan tidak rata.
"Jadi sangat Sangat pas dengan medan di Kalimantan yang berbukit-bukit curam," kata Pangdam VI Mulawarman.
Kabupaten Bulungan berdasarkan letak geografisnya tidak berbatasan langsung dengan Malaysia. Di depan Bulungan, adalah kabupaten Malinau dan Nunukan yang punya batas dengan negara bagian Sabah dan Sarawak.
Markas Batalyon Kavaleri tersebut sedang dibangun di Desa Gunung Sari, Kecamatan Tanjung Selor, masih dalam lingkup ibu kota kabupaten yang dulu adalah Kesultanan Bulungan tersebut.
Pembelian tank Leopard masih dalam pro dan kontra, baik di DPR RI maupun di Parlemen Belanda.
Para politisi di DPR dan sejumlah pengamat militer menyebutkan bahwa Leopard tidak cocok dengan medan tempur di Indonesia, yakni de3n dengan alasan bahwa bobotnya terlalu berat bagi jalan atau jembatan, terutama di wilayah perbatasan tersebut.
TNI Siapkan Kopassus, Raider, Marinir & Kopaskhas Amankan Demo BBM
"Tidak ada siaga satu, kita kumpulkan untuk teman-teman kita salurkan untuk amankan teman-teman yang lakukan aksi demo," ujar Agus usai melakukan rapat di Kemenkopolhukam, Senin (26/3/2012).
Agus menegaskan saat ini kondisi Jakarta masih terkendali. Gelombang demonstrasi besar diyakininya tidak akan menjadi anarki dan pengrusakan.
"Tidak ada kondisi darurat pedagang bakso tetap dagang. Coba itu lihat pedagang bakso di jalan-jalan tetap jualan. Gimana bisa dikatakan darurat," ujarnya.
Adapun pasukan yang akan dikerahkan oleh TNI, kata Agus, meliputi Raider, Kopassus, Marinir, dan Kopaskhas. "Personel sesuai permintaan Polri. Pokoknya cukup, sesuai yang dibutuhkan kepolisian. Pokoknya ditempat sesuai permintaan polisi," tandasnya.
Wamenhan : Silahkan Tanyakan Ke Rosoboron Export Keterlibatan PT Trimarga
Pasalnya, kata Syafrie, Rosoboron merupakan lembaga yang ditunjuk pemerintah Rusia mengadakan interaksi dengan pihak luar yang hendak membeli peralatan militer buatan negeri beruang merah itu. "Ini merupakan satu pintu dari pihak Rusia dalam rangka menjual alusista ke luar negeri termasuk Indonesia. Dialah yang berhubungan dengan Kementerian Pertahanan dalam rangka pemerintah ke pemerintah," kata Syafrie di DPR, Jakarta, Senin (26/3).
Mengenai keterlibatan perusahaan Trimarga, Syafrie mengaku tak bisa mejawab. Penjelasan yang diberikan Rosoboron, kata Syafrie, keterlibatan pihak Trimarga adalah hanya untuk melancarkan kegiatan administrasi.
"Memang betul Rosoboron menjadikan itu sebagai legitimasi, itu secara administrasi dituliskan. Tapi bagi kami di Kemhan, peranan Trimarga itu sama sekali tidak ada pengaruhnya di dalam pengambilan keputusan," kata Syafrie.
Komisi I Pertanyakan Dugaan Mark Up Pembelian Sukhoi
"Dalam pengadaan pesawat Sukhoi SU-30MK2, diduga terjadi mark-up dalam prosesnya. Karena nilainya menggelembung dari harga Sukhoi yang dikenal di pasaran pada umumnya," ujar anggota Komisi I Muhammad Najib dalam raker dengan Wamenhan di DPR, Senin(26/3)
Kata Najib, pengadaan Sukhoi itu juga diduga melibatkan broker. Sehingga terjadi selisih harga pembelian enam Sukhoi SU-30MK2, sebesar US$ 56,7 juta atau setara dengan Rp 538,6 miliar.
"Dalam pengadaan tahun 2010, nilai pembelian Sukhoi dari produsen yang sama hanya berkisar US$ 55 juta. Jika harga kesepakatan adalah US$ 500 juta untuk enam Sukhoi, ini artinya harga per satu Sukhoi adalah US$ 83 juta," ujarnya.
Menurut politisi PAN ini, pembelian enam Sukhoi seharga US$ 470 juta itu juga tidak dilakukan secara langsung antara Kemhan dengan produsen Sukhoi, Rosoboronexport. Melainkan melalui perusahaan pihak ketiga, Trimarga Rekatama, yang menyebabkan harganya lebih mahal daripada harga yang dibeli negara lain.
Sementara anggota Komisi I lainnya dari Fraksi partai Gerindra Ahmad Muzani juga menduga keterlibatan pihak ketiga, yakni JSC Rosoboronexport Rusia, yang diageni PT Trimarga Rekatama, membuat harga per unit Sukhoi melambung dari US$ 55 juta pada 2010 menjadi US$ 83 juta pada 2011.
"Dari skema pembiayaan dengan kredit ekspor, agen mendapatkan fee 15-20 persen dari harga barang. Sehingga berpotensi kerugian negara lebih dari Rp 1 triliun," ujarnya.
Sementara itu, Sekjen Departemen Pertahanan (Dephan) Marsekal Madya ( Purn) Suprihadi dalam raker ini membantah terjadi mark up dalam pembelian Sukhoi itu.
Perbedaan harga Sukhoi saat ini lebih disebabkan harga adanya penyesuaian inflasi yang dilakukan pihak produsen pesawat itu.
Update : DPR Tolak Pembelian Pesawat Intai Buatan Filipina
Menurutnya, berdasarkan data yang dipaparkan Kemhan, bahwa antara pesawat tanpa awak buatan Indonesia dan buatan Philipina sama saja. Dia memertanyakan apa hal spesifik yang membuat Kemhan ingin membeli pesawat UAV itu.
"Kalau dikatakan membeli teknologi, teknologi apa yang kita beli sehingga harus dari Philipina," kata Muzani saat raker.
Soalnya, lanjut dia, data yang ada sama. Bahkan kata Muzani, daya angkutnya pesawat Indonesia bisa sampai 115 sedangkan Philipina hanya 110. Pun demikian dengan daya jelajahnya yang tidak berbeda jauh, Philipina 20 jam dan pesawat Indonesia 15 jam.
"Makanya kami tanyakan tadi kalau mungkin dibatalkan saja, kita beli di Indonesia," kata Sekjen Partai Gerindra, itu usai raker.
Dia berani memastikan kalau membeli di Indonesia sudah pasti harganya jauh lebih murah ketimbang beli dari Philipina."Itu sudah dipastikan," katanya.
Tapi, lanjut dia, tampaknya pemerintah ingin tetap mengambil itu dengan alasan teknologi. Padahal, tegasnya, kalau dilihat teknologinya tidak jauh beda. "Kalau menurut Pak Wamenhan tadi jelas casing Philipina punya, teknologinya Israel punya," katanya.
Saat rapat Wakil Ketua Komisi I DPR Hayono Isman, mengatakan, bahwa sudah disepakati tidak boleh membeli barang dari Israel."Itu yang kami mau sebaiknya dibatalkan mumpung belum jadi problem politik. Kalau sudah jadi probelm politik (urusannya) lain, apalagi (pesawat) itu digunakan untuk kepentingan intelijen," timpal Muzani.
Dia menegaskan, kalau semua foto, gambar yang timbul dari pesawat intai itu kemudian dipantau oleh pihak lain, itu yang berbahaya. "Itu mungkin saja dalam operasi militer," katanya.
Sekarang, kata Muzani, pesawat itu memang belum dibeli. "Makanya kita minta kalau bisa dibatalkan," tegas anak buah Prabowo Subianto, itu.
Wakil Menhan Sjafrie Syamsudin dikonfirmasi usai rapat, mengatakan bahwa masih ada hal yang sangat prinsip yang tidak terpenuhi dari pesawat intai Indonesia. "Ada yang sangat prinsip tidak terpenuhi, salah satunya spech (jenis) kamera siang," kata Safrie.
Terkait casing Philipina tapi teknologi Israel, Safrie menegaskan, "Saya terus terang katakan teknologi itu ada dimana-mana." Sejauh ini, kata dia, memang UAV itu belum dibeli oleh Kemhan.
Update : Peserta Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Terima Pembekalan
Pelaksanaan pembekalan latihan Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang dilaksanakan di daerah latihan Kopassus Situ lembang pada hari ini menerima materi pengenalan radio perhubungan yang disampaikan oleh Letnan Kolonel Chb Fitri Taufik KahubKopassus. Materi pengenalan radio perhubungan tersebut antara lain pengenalan radio SSB, radio UHF/VHF, cara berkomunikasi dan pembuatan jaring komunikasi radio perhubungan.
Pembekalan latihan Mountinering bagi peserta Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang dilaksanakan di daerah latihan Kopassus Situ lembang ini penting dilakukan mengingat medan yang akan dilalui memerlukan ketrampilan khusus tentang tehnis dan cara melakukan pemanjatan tebing atau melewati rintangan yang memerlukan cara khusus.
Disamping pemebakalan Mountinering juga menerima menerima pembekalan bidang Geologi dari Profesor Adang sebagai tim ahli Geologi yang terlibat dalam kegiatan Ekspedisi khatulistiwa 2012. Sedangkan bagi Perwira dalam Sub korwil menerima pembekalan tentang kondisi wilayah perbatasan dengan peta tiga dimensi dari Bapak Tjuk Azis Suprapto anggota kehormatan Wanadri.
Sumber : Kopassus
Wamenhan Jelaskan Rencana Pembelian Pesawat Tanpa Awak Ke DPR
Menurut Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Syamsuddin dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin, pesawat tanpa awak yang akan dibeli dari Filipina itu menggunakan teknologi dari Israel.
Sejauh ini, rencana pembelian pesawat tanpa awak itu masih menunggu persetujuan DPR.
"Yang paling spesifik dalam masalah pembelian 4 pesawat tanpa awak ini sebesar 16 juta dolar Amerika Serikat, apabila disetujui oleh DPR sehingga kontraknya efektif, maka pesawat itu akan diterima dalam waktu 18 bulan setelah kontrak," kata Sjafrie.
Ia menjelaskan, pesawat tanpa awak ini mampu terbang dengan radiusnya 200-400 kilometer. Pesawat tanpa awak ini juga, kata dia, dapat dioperasikan manual dengan daya jelajah terbang selama 20 jam.
Ia menambahkan, produk Filiphina ini dibuat oleh Kital Philippine Corporation (KPC). Mereka mengkombinasikan mesin dari Italia, infrastruktur dari Filipina dan teknologi dari Israel.
"Kami membeli teknologi. Ini yang perlu bapak-bapak ketahui bahwa kita tidak membeli ke Israel tetapi membeli teknologi sebagai bagian yang terintegrasi ke dalam sistem yang ada di pesawat tersebut. Kami berhubungan ke perusahaan asal Filipina, Kital Philippine Corporation (KPC) itu. Dan kami tidak berhubungan dengan Israel," jelasnya.
Sementara itu, anggota Komisi I DPR dari Partai Gerindra Ahmad Muzani meminta rencana pembelian pesawat tanpa awak tersebut dibatalkan sebab Indonesia sudah bisa mempunyai produk serupa bahkan dibeli negara tetangga seperti Malaysia.
Ketika menjawab Muzani, Sjafrie menerangkan produk Indonesia belum memenuhi standar yang sudah ditetapkan. Misalnya soal radius terbang yang 200 kilometer, tidak bisa digunakan secara otomatis serta soal kamera. Ia meminta agar Indonesia tetap membeli empat pesawat tanpa awak teknologi Israel itu.
Tiga Perusahaan Radar Nasional Bersaing Pengadaan Radar Pertahanan Udara
![]() |
| Radar Northrop Grumman AN/TPS-78 |
![]() |
| Radar Lockheed Martin AN/TPS-77 |
![]() |
| Radar Thales Raytheon Systems Groundmaster 400 |
Dari kerjasama PT Len dan TRS ini maka PT Len akan mendapatkan porsi 40% dalam muatan lokal jika duet ini memenangkan tender.
Korsel Akan Tembak Jatuh Roket Korut Jika Masuk Wilayahnya
Panglima TNI Terima CC Petinggi Militer Negara Sahabat
JAKARTA-(IDB) : Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., didampingi Asrenum Panglima TNI Laksda TNI Among Margono, S.E., Asintel Panglima TNI Mayjen TNI Tisna Komara W., S.E., Kapuspen TNI Laksda TNI Iskandar Sitompul, S.E. serta Waasops Panglima TNI Laksma TNI Widodo S.E., secara berturut-turut menerima CC (Courtesy Call) Chief of Defence Force of Australia General David Hurley, USG UNDPKO Mr. Herve Ladsous, Vice Chief of Defence Netherland Vice Admiral Wim Nagtegaal, Vice Chief Staff Armed Forces Canada Vice Admiral Bruce Donalson dan Deputy General Secretary of Defence of Italy Lt Gen Mario Marioli, pada acara JIDD (The Jakarta International Defense Dialogue), bertempat di Maleo Room Jakarta Convention Center, Kamis (22/3). Kunjungan para petinggi militer tersebut dalam rangka meningkatkan kerja sama, yang selama ini telah terjalin dengan baik.
Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., didampingi Asrenum Panglima TNI Laksda TNI Among Margono, S.E., Asintel Panglima TNI Mayjen TNI Tisna Komara, S.E., Asops Panglima TNI Mayjen TNI Hambali Hanafiah, serta Kapuspen TNI Laksda TNI Iskandar Sitompul, S.E. menerima CC (Courtesy Call) Chief of Armed Forces of the Phillipiness General Jessie Delossa AFP, pada acara JIDD (The Jakarta International Defense Dialogue), bertempat di Maleo Room Jakarta Convention Center, Jumat (23/3). Kunjungan tersebut dalam rangka meningkatkan kerja sama yang telah terjalin baik. Transparansi Pengadaan Alutsista Masa Sekarang Jauh Lebih Baik Daripada Masa Lalu
"Saya menanyakan kepada Pak Matori termasuk dengan eselon satunya. Bagaimana prosesnya. Mereka tidak tahu. Hal itu saya tanyakan karena Pak Dorodjatun sebagai Menko Perekonomian menanyakan kepada saya. Jadi tidak ada yang tahu, termasuk Pak Presiden yang ketika itu menjadi Menko Polkam," kata Dipo di sela-sela perjalanan menuju Seoul, Korea Selatan, Minggu (25/3).
Kala itu, Dipo menjadi Deputi Menko Perekonomian. Menurut Dipo, pejabat yang mengetahui proses pengadaan hanyalah Menperindag Rini Suwandi, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Kemudian, Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Cheppy Hakim, Kepala Bulog Widjanarko Puspoyo dan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Deperindag Sudar SA Gantika Riyanto.
"Pengadaan sudah berlanjut dan katanya pakai sistem counter trade. Rini suwandi yang menjelaskan kepada saya, bahwa counter trade itu adalah menukar kelapa sawit dengan Sukhoi. Itu yang saya tahu," katanya. Dipo sempat beradu argumen dengan Rini mengenai pengadaan Sukhoi dengan counter trade. Soalnya, konsep itu pada akhirnya akan membebani APBN, yang memang saat itu tidak ada alokasi anggaran khusus untuk membeli Sukhoi.
"Saya bilang ke Bu Rini, bahwa pemerintah bukan VOC. Kelapa sawit kan yang punya swasta, ujung-ujungnya APBN juga yang harus mengganti kelapa sawit swasta yang dibarter dengan Sukhoi. Jadi, saya tidak percayalah dengan soal counter trade itu," katanya.
Di kemudian hari, berdasarkan info yang diberikan Dirjen Anggaran Departemen Keuangan Anshari Ritonga, uang penggantian kelapa sawit itu diambil dari pos anggaran penanggulangan bencana alam. Sayangnya, Dipo lupa berapa jumlah uang yang dipakai.
"Seandainya tsunami terjadi pada 2003, kita tidak ada lagi dananya. Itu yang saya tahu," kata Dipo. Ada sejumlah opsi pembelian lain yang bisa digunakan dan lebih menguntungkan, yakni offset strategy. Yakni Sukhoi dibarter dengan pesawat buatan Indonesia, yakni CN-235.
Dengan begitu, PT DI bisa berkembang dan pesawat buatan Indonesia bisa dipakai tidak hanya untuk militer tapi juga untuk ke daerah-daerah Rusia yang miskin. Selain itu, India pertama membeli Sukhoi langsung dari Rusia. Namun, untuk selanjutnya, Sukhoi harus dibuat di India.
"Dan Rusia setuju. Itu baru cara jitu ketimbang counter trade yang pakai kelapa sawit," Kata Dipo
Indonesia Seeks to Boost Arms Industry
Rather, it is the pledges that the armed forces have secured for the transfer of military technology. Officials hope to use this know-how to grow a domestic defense manufacturing industry at a time when the economy is booming.
Indonesia is already working with South Korea to jointly make jet fighters and 1,400-ton submarines. It hopes to produce C-705 anti-ship missiles with a range of 140km with Chinese help, and officials want to do more.
A more robust defense industry, Indonesian Armed Forces commander Agus Suhartono told a defence conference on Friday, will not only enhance the country’s security and stability, but also improve public welfare.
“It will create new job opportunities,” he said.
The country’s major local armaments makers — arms and vehicle manufacturer Pindad, aircraft manufacturer Dirgantara and shipbuilder PAL Indonesia — also produce equipment for civilian use, but Adm. Suhartono said raising their export capability will help boost national income.
“Competition in the international defense market is fierce, and it is generally difficult to navigate for newcomers,” he added, calling for greater cooperation between defense industries in the region.
Local manufacturers have had some successes. Earlier this month, Dirgantara delivered the fourth CN-235 maritime patrol aircraft to the Korean Coast Guard.
Indonesia has also been conscious of the need to allay concerns over its buildup, even though this year’s defence budget of $7 billion — a 28 per cent increase from last year — is under 1 per cent of gross domestic product and pales in comparison to China’s US$106 billion.
President Susilo Bambang Yudhoyono, a former army general, said on Wednesday: “These growing defence expenditures should be seen in the context of normal process of military modernisation, and do not constitute an arms race.”
China has been particularly supportive of Indonesia’s efforts to revitalise its defence industry, but defence industry policy committee spokesman Silmy Karim said countries like South Korea and Turkey were keen to do more with Indonesia in this field.
Last December, Indonesia and South Korea signed a $1 billion deal for three submarines. Indonesians will be involved in building the first two in Busan, so as to be ready to build the third in Surabaya.
On a visit to Beijing last month, Defence Minister Purnomo Yusgiantoro sought assistance for monitoring equipment needed to navigate the archipelago’s sea lanes, and visited defense, including missile production facilities.
Chinese ambassador to Indonesia Liu Jianchao has told reporters he understood that adequate military might was necessary to safeguard the sovereignty and integrity of Indonesia, and would also make the region more stable.
Parahyangan Catholic University international relations lecturer Mira Permatasari said: “Vested interests in developed countries seem reluctant to share know-how, but countries in the region appear to be more supportive.”
Defense ties, however, continue to be strong all-round. Last November, the United States said it would supply Indonesia with 24 refurbished F-16 fighters. Australia will also grant Indonesia four C-130 Hercules aircraft for disaster relief needs.
But the defense build-up has not been without controversy at home.
Several MPs have been critical of recent and planned arms purchases, although observers say this is because these do not involve brokers who mark up prices and split the gains.
These include the purchase of six Sukhoi jet fighters from Russia last year, and the planned purchase of 100 second- hand Leopard main battle tanks from the Netherlands, and if Dutch lawmakers object, from Germany.
Others have said the army could have tapped on Pindad, which produces a range of material from assault rifles to armored personnel carriers (APCs).
But officials say getting such equipment off the shelf will shorten the learning curve and enable Pindad to do more in the long run.
Just this month, the Defence Ministry and army signed 1.3 trillion rupiah (S$178 million) worth of contracts with local makers, including for 31 Anoa APCs.
Purnomo said: “We want to produce as many weapons systems locally as is possible.”
The Indonesian military’s orders last year included :
Three submarines and 16 KAI T-50 Golden Eagle advanced trainers from South Korea
Six Sukhoi fighter jets
Nine NC-295 medium transport planes from Spain
Eight Embraer Super Tucano counter-insurgency aircraft from Brazil
On its shopping list this year are:
Army
Leopard 2A6 main battle tanks from the Netherlands and/or Germany
Multiple launch rocket systems 155mm Howitzers
Assault and transport helicopters
Armored personnel carriers
Navy
Fast patrol boats
Guided-missile destroyer
Hydro-oceanography vessel
Various auxiliary vessels, including fuel and landing ship tank
Anti-submarine warfare helicopter
Air force
Anti-aircraft missiles
EC-725 Cougar helicopter
24 units of F-16 (to be retrofitted)
Four units of C-130H heavy transport aircraft, a gift from Australia (to be retrofitted)
Megawati Shares The Blame On Sukhoi Fiasco: Minister






















