C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Jumat, Oktober 07, 2011
NC 295 Mengangkasa di Udara Indonesia
Performa Pesawat NC 295
Komisi I DPR Dukung Pengadaan Pesawat Tempur Baru
“Target utama kali ini yaitu peningkatan revitalisasi (proses) pengadaan alutsista,” kata Roy Suryo kepada wartawan usai diskusi di Jakarta, Kamis (6/9/2011).
Roy mencontohkan, alutsista yang dibutuhkan TNI diantaranya pembelian 6 pesawat baru F-15 Retrofit dan 24 pesawat tempur F-16 yang diberikan secara cuma-cuma dari Amerika Serikat. “Sampai sekarang pesawat tersebut masih ada di Arizona,” jelas pakar telematika itu.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin mengatakan, pemberian 24 pesawat F-16 dari Amerika Serikat itu, bukan hibah, tetapi secara cuma-cuma.
“Kami menyebut pemberian 24 pesawat dari Amerika itu dengan sebut Grant, dalam arti ini bukan hibah tapi pemberian cuma-cuma. Jadi jangan ditafsirkan hibah karena nanti pemahamannya berbeda," jelas Sjafrie Sjamsoeddin.
Sjafrie mengharapkan pada Oktober 2014 dapat segera melakukan latihan dengan mendapatkan sebanyak 24 pesawat F16 tambahan. Artinya TNI AU akan menambah 1 squadron F16.
Taruna Akademi AU Dikirim Berlatih Ke Thailand Dan Vietnam
Modernisasi Alutsista Harus Imbangi Peningkatan SDM TNI Itu Sendiri
Dibanding Institusi Lain Reformasi TNI Paling Berhasil
"Saya melihat proses reformasi yang dilakukan TNI relatif lebih baik dari institusi lain," ujar Pramono menanggapi TNI yang hari ini berusia 66 tahun, di Gedung Dewan, Rabu, 5 Oktober 2011.
Menurut politikus PDI Perjuangan itu sejauh ini permasalahan di tubuh TNI lebih kecil dibanding institusi lain. TNI juga dinilai mampu menempatkan diri sebagai penjaga pertahanan negara. "Ini tentu harus diberi apresiasi," ujar dia. Pramono juga menyampaikan apresiasi atas kemampuan TNI memisahkan diri dari ranah politik.
Di sisi lain Pramono mengakui dalam pengelolaan alutsista TNI juga masih lambat. Namun dia mengakui keterlambatan itu bukan semata persoalan TNI, tapi karena terbatasnya anggaran yang disediakan untuk TNI. Meski anggaran TNI termasuk besar di APBN, tetap belum mencukupi untuk perbaikan alutsista. "Memang anggarannya terbesar, tapi luas wilayah yang besar membuat anggaran itu terbatas."
Dia mencontohkan lambatnya modernisasi alat kelengkapan terjadi di Angkatan Darat dan Angkatan Laut. "Radar kita misalnya belum mencakup seluruh negara kesatuan," ujarnya.
Soal anggaran untuk TNI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pagi tadi menyebutkan pemerintah telah menyiapkan rencana untuk menaikkan anggaran belanja TNI pada 2012 hingga 35 persen. Peningkatan anggaran itu terutama untuk pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutista) TNI.
Pemerintah, kata SBY, akan mengalokasikan anggaran hingga Rp 64,4 triliun untuk TNI pada 2012, meningkat dari anggaran tahun 2011 sebesar Rp 47,5 triliun. "Mendorong dan pengembangan alutsista sangat penting," kata SBY dalam sambutannya di upacara HUT ke-66 TNI di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu pagi tadi, 5 Oktober 2011.
TNI Dihadiahi 24 Pesawat F-16 Cuma-Cuma Dari AS Di Hari Ulang Tahunnya
Namun, Sjafrie tidak ingin penyebutan grant diartikan sebagai hibah. "Grant dalam arti ini bukan hibah lho ya tapi pemberian cuma-cuma. Jadi jangan ditafsirkan hibah karena nanti pemahamannya berbeda," ucapnya.
Dengan adanya penambahan pesawat tempur jenis F-16, maka TNI AU akan memiliki satu squadron tambahan. Dan penambahan pesawat F-16 akan menambah koleksi pesawat tempur TNI sebanyak 34 pesawat. Selain penambahan satu squadron pesawat tempur, penambahan lain, yakni satu pesawat angkut yang nantinya juga akan ditambah dengan meningkatnya anggaran Alutsista untuk TNI.
Amerika Serikat Hibahkan 24 Pesawat F16 Untuk TNI
Kementerian Pertahanan akan melakukan modernisasi terhadap Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI apabila pembahasan pagu anggaran yang diajukan sebesar 64 trilliun tersebut disetujui oleh DPR dan Pemerintah.
Menurut Wamenhan, Sjafrie Sjamsoedin anggaran tersebut akan difokuskan pada seluruh institusi TNI.
"Kita mau fokuskan adalah bagaimana modernisasi AD, AU dan AL. Oleh karena itu angkatan darat sekarang akan membeli, male detector tank, meriam polutser 155 mm yang kita belum punya sebelumnya, kemudian menambah helikopter serang, menambah peluru kendali multy rocket sistem, kemudian membeli anti pesawat serang atau mistral. Itu yang kita lakukan," ujar Sjafrie kepada wartawan di Jakarta, Rabu (5/10/2011).
Sedangkan untuk TNI Angkatan Laut kata dia akan menambah kapal diatas permukaan dan kapal selam baru. Pembelian kapal selam itu sudah direncanakan sejak tahun 2005 lalu.
"Untuk angkatan udara pesawat tempur dan pesawat angkut. Pesawat tempur kita akan menambah Squadron F16 dengan cara grand dari Amerika Serikat. Grand itu adalah pemberian secara cuma-cuma. Sehingga kita di prioritaskan oleh Amerika Serikat sebanyak 24 unit. Jadi kita tidak membeli pesawat tapi kita diberi pesawat. Nah pesawat itu yang di upgrade itu memerlukan anggaran," kata dia.
Sjafrie mengharapkan pada Oktober 2014 dapat segera melakukan latihan dengan mendapatkan sebanyak 24 pesawat F16 tambahan. Artinya TNI AU akan menambah 1 squadron F16.
"Kalo kita mau jumlah berarti kita punya stok 35 pesawat F16. Dan ini masih dalam proses pembahasan oleh DPR," pungkasnya.
Sumber : Okezone
Wakil Menhan: AS Prioritaskan Grant untuk Indonesia
Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, Amerika Serikat telah memilih memprioritaskan Indonesia dalam pemberian pesawat tempur jenis F-16 secara cuma-cuma atau grant. Padahal, menurutnya, saat ini puluhan negara antre demi mendapatkan pemberian grant tersebut dari Amerika.
Hal itu terbukti karena Amerika Serikat memberikan 24 pesawat tempur F-16 kepada TNI Angkatan Udara di HUT TNI ke-66 yang jatuh hari ini [baca: TNI AU Dihadiahi F-16 dari AS].
"Perlu diketahui, sudah sekian puluh negara yang mengantre ingin mendapatkan grant dari Amerika Serikat," kata Sjafrie kepada wartawan usai rapat kerja dengan Komisi I DPR di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (5/10). "Grant itu adalah pemberian secara cuma-cuma. Sehingga kita diprioritaskan oleh Amerika Serikat sebanyak 24 (pesawat).
Sjafrie menambahkan, pesawat tempur yang akan diberikan itu nanti juga harus diupgrade dan ditingkatkan lagi teknologinya. Untuk meng-upgrade dan meningkatkan teknologi tersebut, maka diperlukan anggaran. Anggran tersebut berasal dari penambahan anggaran terhadap Alutsista TNI dari APBN. "Nah, anggaran tersebut akan digunakan untuk meng-upgrade pesawat tempur F-16 itu," ucapnya.
Dengan adanya Penambahan pesawat tempur jenis F-16 ini maka TNI AU akan memiliki satu squadron tambahan. Penambahan 24 pesawat F-16 sekaligus menambah koleksi pesawat tempur TNI jenis F-16 sebanyak 34 pesawat.
Sumber : SCTV
Membangun Kembali Kekuatan TNI Menjadi Yang Disegani
Selama bertahun-tahun kita membiarkan kekuatan militer yang ada, sehingga membuat kita tampak tidak berdaya. Anggaran yang ada pun seringkali dipakai tanpa arah pembangunan alutsista yang terarah.
Sekarang Kementerian Pertahanan mendapat tugas untuk menyusun penyediaan alutsista yang diperlukan untuk memperbaiki kekuatan militer kita. Bersama tiga matra darat, laut, dan udara yang akan menjadi pengguna, dirumuskan cetak biru pengadaan alutsista untuk beberapa tahun mendatang.
Mahalnya harga peralatan militer membuat kita tidak bisa memperbaruinya sekaligus. Pembangunan dilakukan secara bertahap dan agar ada kesinambungannya diperlukan cetak biru pembangunan alusista yang jelas.
DPR sebagai mitra pemerintah ikut mengawasi penyusunan cetak biru dan pelaksanaan pengadaannya. Sebagai pihak yang ikut menentukan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, DPR harus bisa menjamin bahwa pembangunan alutsista benar-benar terarah untuk menghasilkan kekuatan militer Indonesia yang cukup disegani.
Arah kebijakan yang ditetapkan Kementerian Pertahanan dengan jelas menggariskan, pengadaan alutsista tidak dilakukan hanya dengan membeli dari luar. Kita ingin memberdayakan industri strategis yang dimiliki, sehingga ketergantungan kepada negara lain bisa dikurangi.
Pola kerja sama produksi dengan negara-negara produsen peralatan militer terus dijajaki. Presiden meminta agar kerja sama dengan negara yang mau melakukan produksi bersama dengan industri strategis dalam negeri didahulukan. Kita ingin pengadaan alutsista diikuti dengan peningkatan kemampuan putra-putra Indonesia dalam penguasaan teknologi militer.
Kita memiliki industri strategis yang dibutuhkan untuk membangun kekuatan militer yang andal. Kita punya PT Pindad untuk pengadaan kebutuhan militer bagi Angkatan Darat. Kita punya PT PAL yang mampu membangun kapal-kapal yang kuat. Kita juga punya PT Dirgantara Indonesia yang menghasilkan pesawat militer untuk negara-negara di kawasan.
Hanya selama ini kita tidak memedulikan keberadaan mereka. Baru ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta TNI untuk memanfaatkan PT Pindad dalam pengadaan panser, terbuka kembali mata kita bahwa industri strategis yang kita miliki cukup andal. Kita hanya membutuhkan kemauan politik yang kuat untuk membuat kita tidak terlalu harus tergantung pada bangsa lain.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah godaan terhadap penggunaan anggaran. Dengan alokasi anggaran yang cukup besar, maka ketidakhati-hatian dalam pengelolaan uang akan membuat keinginan untuk membangun kembali kekuatan militer yang diandalkan, bisa hanya menjadi impian.
Apalagi di tengah situasi besar di mana kebiasaan untuk mengakali anggaran begitu besar. Berbagai kasus yang terjadi di kementerian dan Badan Anggaran DPR sekarang ini menunjukkan bahwa godaan untuk terjadinya kebocoran dan pemborosan anggaran sangat kuat.
Tentunya TNI tidak boleh menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan untuk bisa membangun kekuatan militer yang diandalkan. Kebiasaan lama untuk mendapatkan imbalan atau kick-back dari pengadaan alutsista harus ditinggalkan. Seperti sering diingatkan Presiden, Kementerian Pertahanan tidak boleh lagi menjadi kementerian yang "bobo", bocor dan boros.
Kesempatan untuk membangun kembali TNI sebagai kekuatan yang bisa diandalkan ada di depan mata. Sekarang tinggal terpulang kepada TNI sendiri untuk bisa atau tidak memanfaatkan kesempatan emas tersebut.
Pilihan untuk menyediakan anggaran yang lebih bagi pembangunan kekuatan militer bukanlah perkara yang mudah. Namun kita menyadari bahwa kita tidak mungkin pula untuk tambal-sulam seperti sekarang. Harus ada konsep pembangunan TNI dan pengadaan alutsistanya secara jelas.
Kita memang diingatkan oleh pemeo "kalau kita mau perdamaian, maka kita harus siap berperang". Kita membangun kembali kekuatan militer bukanlah untuk gagah-gagahan. Kita hanya tidak mau lagi dilecehkan oleh negara-negara lain sebagai negara besar yang tidak berdaya.
Dirgahayu ke-66 Tentara Nasional Indonesia!
Alutsista Perbatasan Harus Segera Ditingkatkan
Kepulauan Riau merupakan daerah perbatasan dan perlu alat utama sistem kesenjataan (alutsista) yang cukup terutama bagi kapal TNI Angkatan Laut dalam menjaga kedaulatan negara, kata Darwanto usai menjadi inspektur upacara Hari Ulang Tahun TNI ke-66 di Lapangan Dewa Ruci Tanjungpinang, Rabu.
Peningkatan alutsista menurut dia juga sesuai dengan amanat Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono yang menyebutkan upaya modernisasi alutsista diperlukan untuk sistem pertahanan yang tangguh.
"Upaya peningkatan alutsista sesuai dengan kebutuhan wilayah masing-masing," katanya.
Menurut dia, wilayah laut di Kepulauan Riau (Kepri) cukup rawan penyelundupan orang maupun pencurian ikan sehingga perlu ditingkatkan terutama dengan patroli dan berkoordinasi dengan Gugus Keamanan Laut Armada RI Kawasan Barat.
"Kami juga tetap berkoordinasi dengan instansi terkait secara intensif untuk mencegah tindakan pelanggaran di laut," katanya.
Menurut dia, tindakan ilegal seperti pencurian ikan juga sudah jauh berkurang di wilayah Kepri dibandingkan tiga sampai empat tahun yang lalu.
"Sudah jauh berkurang, dibandingkan tiga atau empat tahun yang lalu mencapai 150 kapal asing yang kami proses per tahun karena mencuri ikan," kata Darwanto.
Perayaan HUT TNI ke-66 di Provinsi Kepri berlangsung sederhana, hanya ditandai dengan upacara militer yang dipusatkan di Lapangan Dewa Ruci Tanjungpinang.
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang dimeriahkan dengan pertunjukan "marching band" dari siswa taruna militer serta aksi pasukan khusus TNI melumpuhkan teroris untuk menyelamatkan sandera pejabat negara.
Menurut Darwanto, pelaksanaan HUT TNI ke-66 yang sederhana bertujuan untuk lebih mendekatkan TNI dengan masyarakat.
"Di pusat sudah dilaksanakan kegiatan militer, kami lebih berupaya untuk mendekatkan diri dengan masyarakat biar nuansanya tidak terlalu militan," ujarnya.
Upacara tersebut juga dihadiri oleh Gubernur Kepri HM Sani, dan sejumlah kepala daerah serta pejabat pemerintahan dan militer serta anggota DPRD Kepri.
Bertindak sebagai komandan upacara Komandan Kodim 0315/Bintan, Letkol Inf Jimmy Watuseke.
Teknologi Alutsista TNI Di Bawah Singapura & Malaysia, Kemampuan Tempur Lebih Unggul
"Untuk teknologi memang berada di bawah Malaysia dan Singapura. Tapi saya kira kemampuan personel masih lebih unggul," ujar pengamat militer Mufti Makarim saat dihubungi detikcom, Kamis (6/10/2011).
Namun Indonesia tentunya tidak bisa terus berbangga dengan kemampuan personelnya saja. Tuntutan ke depan, kemampuan personel yang tinggi harus didukung dengan alutsista yang modern.
Dalam membangun sistem persenjataan, TNI harus memprediksi ancaman ke depan. Jika masih merasa ancaman lebih banyak dari dalam negeri, maka fokus pertahanan tetap di darat dengan komando teritorial menjadi intinya. Namun jika TNI sudah merasa ancaman terbesar dari luar, maka pembangunan kekuatan akan fokus pada kekuatan laut dan udara.
"Kalau fokusnya tetap menambah pasukan untuk digelar di seluruh Indonesia ya pasti anggarannya akan habis untuk belanja prajurit, bukan untuk membari alutsista," katanya.
Menurutnya ada dimensi yang harus dipertimbangkan saat membeli alutsista. Yang pertama adalah pertimbangan Alutsista bukan hanya dibeli, tetapi juga harus dirawat. Jangan sampai saat akan digunakan untuk bertempur ternyata tidak ada suku cadangnya.
"Lalu kemampuan sinerginya. Ini berkaca pada pengalaman masa lalu. TNI mempunyai banyak senjata dari macam-macam negara. Akibatnya, jangankan menghadapi musuh dari luar, saat operasi militer di Aceh saja kebingungan," jelasnya.
TNI Harus Mampu Memaksimalkan Alutsista Yang Ada
"Dengan alutsista yang ada, TNI harus bisa meningkatkan kemampuan dan profesionalitas dalam mengamankan negara," katanya usai pelaksanaan upacara HUT TNI ke-66 di alun-alun Kota Madiun, Rabu.
Menurut dia, kesatuannya harus mampu memaksimalkan alutsista yang ada. Sebagai kesatuan tempur di lini depan, kemampuan dalam berpatroli dan bertempur harus terus ditingkatkan meski alutsista yang ada terbatas.
"Senjata bukan segala-galanya, namun kemampuan yang kami miliki, baik dalam hal perorangan maupun kesatuan harus terus ditingkatkan," katanya.
Kemampuan yang dimaksud Lektol Infanteri Bambang S adalah tingkat kehandalan, solid, serta naluri dan kecepatan di lapangan. Hal-hal tersebut dapat dilatih melalui pelatihan-pelatihan seperti simulasi dan latihan menembak secara berkala.
"Meski amunisi dalam keadaan terbatas, jika latihan dilakukan dengan teratur, maka semuanya akan dapat digunakan dan tepat sasaran," ucapnya.
Ditanya tentang kemungkinan wajib militer dalam mengatasi ancaman terhadap kedaulatan negara dari luar maupun dari dalam, ia hanya menyatakan bahwa pihaknya hanya sebagai pihak pelaksana saja.
"Saat ini Departemen Pertahanan sedang membahas tentang komponen cadangan sebagai wajib militer setelah TNI. Kami sebagai TNI hanya tinggal menjalankannya saja setelah ada ketentuan pasti," katanya.
Karena itu, jika suatu saat kondisi negara dalam keadaan darurat, TNI merupakan lapis pertama untuk mengamankan negara, sedangkan lapis keduanya adalah komponen cadangan ini. Komponen cadangan ini antara lain meliputi Polri, Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan/TNI-Polri (FKPPI), pramuka, dan lainnya.
Terhadap komponen cadangan ini akan terus dilakukan pemantauan. Pemantauan ini dilakukan oleh kesatuan masing-masing wilayah.
Ia menambahkan, bertepatan dengan HUT TNI ke-66 tahun ini, diharapkan kinerja TNI semakin baik dalam mengamankan negara.
Markas Besar Kowila TNI AL Di Surabaya
Selain markas Koarmatim di Surabaya, perubahan juga terjadi di markas komando Lantamal VI di Makassar. Sementara Koarmabar di Jakarta masih aman dari perubahan. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Untung Suropati mengungkapkan, markas Koarmatim yang kini ada di Surabaya nantinya digeser ke Sorong.
Pergeseran termasuk juga Divisi Marinir yang ada di sana. Semula bukan Sorong yang diproyeksikan sebagai markas komando baru untuk Armada Timur, tapi Ambon. Namun karena pertimbangan berbagai hal, terutama geopolitik dan geostrategi, lokasi dialihkan ke Sorong.
“Sekarang prosesnya mulai berjalan. Sebagian lahan sudah kita bebaskan,” ujarnya usai upacara HUT ke-66 TNI di Mabes TNI kemarin.Dengan pergeseran ini, selanjutnya Surabaya akan ditingkatkan fungsinya menjadi markas komando besar yang membawahi tiga armada laut, yakni barat, tengah, dan timur.
Pimpinan di markas ini akan dijabat oleh perwira TNI Angkatan Laut berpangkat bintang tiga (laksamana madya atau letnan jenderal untuk Marinir). Adapun untuk lokasi markas komando armada laut di wilayah tengah yang akan dipusatkan di Makassar, rencananya menggunakan markas komando Lantamal.
“Mako yang ada sekarang mungkin akan kita geser karena akan digunakan untuk calon Armada Tengah,” sebut Untung. Sejauh ini, kata dia, proses pembentukan armada baru masih terus digodok.
Berita Foto : Dankormar Menerima Kunjungan Dubes Korsel Di Cilandak
JAKARTA-(IDB) : Aktor dan Model Korea selatan Hyun Bin (kiri) bersama Dankormar Mayjen TNI (Mar) Alfan Baharudin (tengah) ketika mengunjungi Brigade 2 Marinir di Cilandak, Jakarta, Kamis (6/10). Hyun Bin merupakan Duta Pertahanan Korsel untuk RI itu saat ini masih menjalani wajib militer sebagai anggota marinir Korsel. 6 Oktober 2011, Jakarta (Jurnas.com): Duta Besar Korea Selatan, Kim Young-Sun mengunjungi Markas Komando Marinir di Cilandak, Rabu (6/10). Menyambut kedatangan Kim, Marinir menyuguhkan demonstrasi kemampuan tempur serta alat utama sistem persenjataan (Alutsista) yang dimiliki.
Pasukan anti teror Angkatan Laut, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) menampilkan beladiri marinir serta kelihaian snipernya. Selain itu, dilakukan juga simulasi operasi pembebasan sandera oleh teroris. Operasi pembebasan ini mengerahkan pasukan dari laut, udara dan diperlihatkan kemampuan memanjat tembok.
Marinir juga menunjukkan kemampuan kendaraan tempur LVT-7 yang merupakan pemberian Korea Selatan. LVT-7 merupakan salah satu kendaraan tempur (ranpur) Marinir yang mempunyai kemampuan berjalan di air dan juga membelah track off road. LVT-7 tersebut berjalan menelusuri sungai dan membelah jalanan off road yang berada di komplek Mako Marinir.
Dalam kunjungan tersebut, Kim Young- Sun didampingi duta militer Korea Selatan sekaligus model dan aktor Korea Hyung Bin.

Aktor dan Model Korea selatan Hyun Bin bersama Dankormar Mayjen TNI (Mar) Alfan Baharudin (kanan) mencoba tank amphibi BMP-3F ketika mengunjungi Brigade 2 Marinir di Cilandak, Jakarta.
Aktor dan Model Korea selatan Hyun Bin (kiri) didampingi Dankormar Mayjen TNI (Mar) Alfan Baharudin (kanan) mencoba senjata serbu M16 ketika. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/11)
Aktor dan Model Korea selatan Hyun Bin (kiri) bersama Dankormar Mayjen TNI (Mar) Alfan Baharudin (kanan) mencoba mencoba makanan masakan prajurit marinir.Dubes Korea Selatan Kunjungi Markas Marinir Di Cilandak
Pasukan anti teror Angkatan Laut, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) menampilkan beladiri marinir serta kelihaian snipernya. Selain itu, dilakukan juga simulasi operasi pembebasan sandera oleh teroris. Operasi pembebasan ini mengerahkan pasukan dari laut, udara dan diperlihatkan kemampuan memanjat tembok.
Marinir juga menunjukkan kemampuan kendaraan tempur LVT-7 yang merupakan pemberian Korea Selatan. LVT-7 merupakan salah satu kendaraan tempur (ranpur) Marinir yang mempunyai kemampuan berjalan di air dan juga membelah track off road. LVT-7 tersebut berjalan menelusuri sungai dan membelah jalanan off road yang berada di komplek Mako Marinir.
Dalam kunjungan tersebut, Kim Young- Sun didampingi duta militer Korea Selatan sekaligus model dan aktor Korea Hyung Bin.
Mendesak Lebih TNI Butuh Pesawat Tempur & Kapal Selam Daripada Tank & Meriam
"Kecenderungan perang ke depan bukan lagi konvensional dimana tentara berhadapan dengan tentara. Karena itu jika ada pilihan, lebih baik membeli pesawat tempur, atau kapal selam daripada senjata ringan, tank atau meriam untuk artileri," ujar pengamat militer Mufti Makarim saat dihubungi detikcom, Kamis (6/10/2011).
Mufti menambahkan TNI juga perlu memperbarui serta menambah peralatan pengintaian seperti radar untuk cegah tangkal. Saat ini radar milik TNI dirasa kurang untuk mengcover seluruh wilayah RI yang luas.
Mengenai hibah 30 pesawat F-16 dari AS, Mufti meminta pemerintah dan DPR mempertimbangkannya masak-masak. Biaya hibah dan upgrade pesawat bekas memang lebih murah dari membeli pesawat baru. Tetapi namanya barang bekas, tentu ada hal-hal yang selalu harus dipertimbangkan.
"Harus dipikirkan juga biaya perawatannya. Jam terbangnya juga. Jangan sampai nanti begitu ada kebutuhan operasi malah tidak bisa digunakan," tambahnya.
Mufti juga menilai embargo persenjataan bisa saja terjadi kembali, bukan hanya dari AS, tetapi juga negara-negara lain. Hal ini tentunya harus dipertimbangkan juga saat membeli senjata.
Kodam V/Brawijaya Tambah Panser "Anoa" Produksi Pindad
"Kami baru saja menambah alutsista panser bernama Anoa buatan PT Pindad Indonesia," ujar Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Gatot Nurmantyo di sela peringatan HUT ke-66 TNI di Surabaya.
Dari enam panser "Anoa" yang dipesan, dua unit di antaranya sudah dipamerkan di hadapan para prajurit dan ribuan warga yang memadati lapangan upacara yang dipusatkan di Makodam V/Brawijaya, Surabaya.
"Empat lainnya juga dipamerkan, tapi tidak ikut dalam barisan defile. Semua itu kami fasilitasi untuk batalyon raider," tukas jenderal bintang dua tersebut.
Pangdam menegaskan, khusus untuk pengadaan dan pemesanan alutsista, pihaknya akan mengutamakan senjata buatan dalam negeri yang diproduksi oleh anak bangsa Indonesia.
Selain itu, kata dia, program tersebut merupakan kebijakan pemerintah pusat agar semua persenjataan utama di kalangan TNI menggunakan buatan dalam negeri.
"Perlahan tapi pasti, TNI akan menggunakan senjata buatan putra Indonesia sendiri. Ini juga kebijakan dari pemerintah," tukas Panglima Komando Garnisun Tetap III/Surabaya tersebut.
Selain memamerkan dua panser barunya, dalam peringatan HUT ke-66 TNI, juga dipamerkan 95 kendaraan dan peralatan tempur, di antaranya delapan unit mobil pertempuran jarak dekat dan 10 unit meriam 57 mm milik Arhanudse-8.
Ada pula, delapan unit kendaraan lapis baja milik Kaveleri serbu 3, tank AMX 10 milik Marinir TNI AL, empat unit tank Scorpion, meriam Howitzer 122 milimeter, serta tiga unit helikopter milik Puspenerbal.
Presiden SBY Meminta TNI Optimalkan Alutsista Dalam Negeri
"Pastikan peningkatan alutsista. Optimalkan produk industri pertahanan nasional untuk TNI, dan hentikan ketergantungan yang tak perlu ke luar negeri untuk alutsista,"kata Presiden dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke 66 di Plaza Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu (5/10).
Menurut Presiden, pemerintah telah berkomitmen membangun kekuatan pertahanan dengan memenuhi minimum essential forces (MEF). Komitmen ini dibuktikan dengan peningkatan alokasi dana TNI untuk tahun anggaran 2012 sebesar lebih dari 35 persen, dari yang semula 47,5 menjadi 64,4 persen.
Presiden berharap, dengan penambahan anggaran ini TNI dapat melakukan peremajaan dan modernisasi alutsista untuk ketiga matra sehingga dapat meningkatkan daya tempur di tiga angkatan. “Sangat penting mewujudkan postur TNI untuk melaksanakan tugas yang efektif. Tahun mendatang akan terus diperbesar. Agar misi penegakan dan penjagaan keutuhan wilayah dapat dilaksanakan dengan berhasil," jelas Presiden.
Ditambahkan Presiden, TNI juga harus dapat mengatasi tantangan faktual yang terjadi seperti di Selat Malaka, aksi terorisme, persoalan perbatasan, penanganan bencana alam serta meningkatkan kerja sama dengan komponen bangsa lainnya.
Presiden memerintahkan Kementerian Pertahanan dan kementerian terkait untuk berkoordinasi dalam membangun kekuatan pertahanan yang makin tangguh. Langkah ini diharapkan selaras dengan pengoptimalisasian produk industri pertahanan dalam negeri.
Hal yang tak kalah penting, kata Presiden, adalah peningkatan SDM dengan pengujian didalam latihan agara dapat sejalan dengan modernisasi alutsista.
Presiden melanjutkan, mengingat peran penting dan strategis TNI, pemerintah memberikan perhatian yang besar pada pembangunan kekuatan TNI. Kebutuhan anggaran pertahanan terus ditambah, untuk mewujudkan kekuatan pokok minimum (minimum essential force). “Tambahan anggaran itu kita fokuskan pada modernisasi alutsista, serta peningkatan kesejahteraan prajurit dan PNS TNI beserta keluarganya. Itulah bagian dari komitmen pemerintah, untuk membangun TNI yang makin profesional, modern dan capable, serta makin meningkat kesejahteraannya,” ujar Kepala Negara.
Di tahun 2012 mendatang, menurut Presiden, pemerintah meningkatkan secara signifikan dukungan anggaran untuk kepentingan pertahanan negara kita. “Dalam RAPBN tahun 2012, anggaran pertahanan dinaikkan dari Rp47,5 triliun pada 2011 menjadi Rp64,4 triliun di tahun 2012, atau naik lebih dari 35 persen. Dengan dukungan anggaran yang makin besar itu, kita lanjutkan peremajaan, modernisasi, serta kualitas pemeliharaan dan kesiapan alutsista TNI AD, TNI AL, dan TNI AU,” ucap Presiden.
Dengan dukungan anggaran yang makin besar itu pula, Presiden menyerukan untuk melanjutkan peningkatan daya tempur dan kemampuan pertahanan TNI di ketiga angkatan. “Upaya modernisasi, pengembangan, penggantian serta pemeliharaan alutsista, sangat penting untuk mewujudkan postur TNI dengan kemampuan penangkalan yang tinggi, dan kemampuan melaksanakan tugas-tugas operasional yang efektif. Pada tahun-tahun mendatang, anggaran pertahanan negara akan terus diperbesar, agar postur militer kita makin kuat, sehingga misi penegakan kedaulatan negara dan penjagaan keutuhan wilayah dapat kita laksanakan dengan efektif,” ujar Kepala Negara.
Special Event :
Jakarta
Medan
Yogyakarta
Pontianak
Makassar
Denpasar Bali
Jayapura
Sumber : Antara





































